Jakarta: Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengantisipasi peralatan dan persenjataan Polri khususnya Detasemen Khusus 88 Antiteror tidak disadap pihak asing khususnya Australia dan Amerika Serikat. Pasalnya, sejumlah alat kepolisian ada yang dihibah dari kedua negara itu.
“Tentu harus kita antisipasi. Kami akan mengevaluasi semua peralatan. Saya kira Kepala Densus 88 dibawah Komando Kabareskrim ketika membeli atau menerima hibah alat itu sudah mengetahui kemungkinan ada penyadapan," kata Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Ronny Franky Sompie di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (21/11).
Ronny mengaku pihaknya telah mengantisipasi upaya penyadapan yang dilakukan intelijen asing dalam setiap kerjasama.
"Namun saya harus tanya kepada Densus 88 dan Bareskrim Polri apakah ada kemungkinan segala macam data yang ada pada Densus 88 tersadap, terekam, dan bisa disalahgunakan untuk kepentingan negara lain, termasuk oleh Australia, itu akan kami evaluasi," ujarnya.
Kerjasama antara Polri dengan kepolisian Australia,Australian Federal Police (AFP) semakin meningkat terutama pascaserangan bom Bali tahun 2001 dan ledakan di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta tahun 2004.
Kerjasama yang dilakukan Polri dengan AFP meliputi pengembangan kemampuan personel dan pertukaran informasi intelijen. Selain itu, pembangungan laboratorium Cyber Crime Bareskrim Polri dan pembangunan Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation (JCLEC) di Semarang.
"Ada hibah atau bantuan dari Australia yang berkaitan dengan cyber crime, tetapi apakah mereka memasang alat itu dengan alat mereka untuk memudahkan penyadapan tentunya perlu kita antisipasi," pungkasnya.
Editor: Githa Farahdina




0 komentar:
Posting Komentar